Sony Walkman: Kisah Kotak Kecil yang Mengubah Cara Dunia Mendengar Musik

Pada 1 Juli 1979, Sony menjual sebuah kotak kecil bernama Walkman. Tidak ada yang menduga — termasuk Sony sendiri — bahwa benda seukuran saku kemeja itu akan mengubah cara jutaan orang mendengarkan musik, dan namanya akan hidup puluhan tahun setelahnya.

Lahir dari perjalanan udara yang membosankan

Kisahnya bermula dari rasa frustrasi sederhana. Masaru Ibuka, salah satu pendiri Sony, sering melakukan penerbangan jarak jauh dan bosan tidak bisa mendengarkan musik opera kesukaannya di perjalanan. Pemutar musik kala itu besar, berat, dan butuh stopkontak — tidak mungkin dibawa ke dalam pesawat.

Ibuka meminta timnya membuat versi stereo dari perekam kaset saku Pressman yang biasa dipakai wartawan liputan. Hasilnya sebuah prototipe sederhana: kaset, dua colokan earphone, dan tombol play — tanpa fitur rekam. Para insinyur awalnya menganggap ide ini aneh. Kok ada pemutar kaset yang tidak bisa merekam?

Tapi Akio Morita, pendiri Sony lainnya, justru melihat potensinya. Ketika sebagian eksekutif meragukan produk ini, Morita menegaskan: kalau gagal, dia yang bertanggung jawab. Walkman pun resmi meluncur.

Nama yang lahir dari keraguan

Menariknya, nama "Walkman" sendiri sempat ditolak. Di Amerika produk ini nyaris dijual sebagai Soundabout, di Inggris sebagai Stowaway — karena para pemasar yakin kata "Walkman" terdengar aneh di luar Jepang.

Morita bersikukuh. Baginya, nama itu justru menjelaskan semuanya: orang yang berjalan sambil mendengarkan musik. Keputusan itulah yang membuat satu nama dipakai di seluruh dunia — dan lama-lama kata "walkman" dipakai orang untuk menyebut tape portable merek apa pun, sampai masuk kamus sebagai istilah umum.

Ada satu detail kecil yang jarang diceritakan. Walkman pertama, TPS-L2, sengaja dibuat dengan dua colokan earphone dan tombol oranye yang disebut hot line, supaya dua orang bisa mendengarkan lagu yang sama bersamaan. Di Jepang tahun 1979, berjalan dengan headphone di tempat umum dianggap kurang sopan. Sony merancang fitur berbagi itu agar orang tidak merasa canggung — jalan berdua, dengar musik berdua.

"Efek walkman": musik jadi urusan paling pribadi

Walkman tidak hanya memindahkan musik dari ruang tamu ke saku — ia mengubah cara orang berhubungan dengan lingkungannya. Sosiolog Jepang Shuhei Hosokawa bahkan menulis esai berjudul The Walkman Effect: musik yang tadinya pengalaman bersama, kini menjadi ruang pribadi yang bisa dibawa ke mana-mana. Kamu bisa memilih soundtrack sendiri untuk perjalanan, untuk jalan kaki, untuk hari yang biasa-biasa saja.

Di era 80-an dan 90-an, walkman tumbuh jadi fenomena global. Sony memproduksi ratusan model dan laku ratusan juta unit di seluruh dunia — dari yang paling sederhana sampai yang tahan air untuk olahraga, dari pemutar kaset murni sampai kombinasinya dengan radio seperti keluarga Walkman radio-kaset.

Dari Jepang ke jalanan Bandung

Di Indonesia, walkman bukan sekadar barang elektronik. Ia teman naik angkot, teman begadang mengerjakan tugas, dan alasan orang mulai serius mengoleksi kaset. Sony adalah merek yang paling diidamkan — pemiliknya sering jadi pusat perhatian di lingkungannya.

Yang paling dicari biasanya model kombinasi: bisa memutar kaset favorit, bisa juga menangkap siaran radio. Satu alat untuk dua dunia hiburan, tanpa perlu gonta-ganti baterai untuk dua perangkat.

Salah satu contohnya sedang ada di lapak kami: Sony Walkman WM-BF22, walkman radio-kaset dengan bodi krem khas era 80-an. Di bagian depannya ada grafis lingkaran hitam bertuliskan "THE ORIGINAL — THE MARKET LEADER" — semacam pernyataan bangga dari masa ketika Sony benar-benar memimpin pasar musik portabel. Fungsi kaset dan radio masih normal, tombol-tombolnya responsif. Ada retak halus di beberapa sisi body — wajar untuk usianya, dan tidak mengganggu performa. Kode barangnya W-07, dan kami selalu mempersilakan pengunjung membawa kaset sendiri untuk tes langsung.

Kotak kecil, warisan besar

Lebih dari empat dekade kemudian, walkman mengajarkan sesuatu yang masih relevan: musik terasa lebih berharga ketika kamu benar-benar memegang mediumnya — kaset yang kamu putar, tombol yang kamu tekan, baterai yang kamu hemat. Itu pengalaman yang tidak bisa digantikan layar sentuh.

Di Pasar Antik Cikapundung, walkman-walkman tua ini masih dicari — oleh mereka yang rindu, dan oleh anak muda yang baru penasaran. Datang, tes langsung, dan bawa pulang sepotong sejarah yang masih berbunyi.

Pasar Antik Cikapundung — Bandung. Buka setiap hari, 09.00–17.00 WIB.

Tertarik melihat barangnya langsung?

Nostmedia berakar di Pasar Antik Cikapundung, Bandung — buka setiap hari 09.00–17.00 WIB. Datang, lihat, dan dengar ceritanya langsung.

Lihat Koleksi →